Kamis, 27 Desember 2012

Skinhead Sebuah Jalan Hidup


Rude Boy Jamaika, Akar Budaya Skinhead Sejarah dan akar budaya Skinhead sebenarnya di rintis jauh di luar Inggris, tepatnya di Jamaika, sebuah negara pulau di laut Karibia. Satu hal yg sangat penting dan perlu diketahui bahwa perkembangan budaya Skinhead tidak bisa dipisahkan dari perkembangan musik ska, dan budaya orang-orang kulit hitam di Jamaika pada umumnya. Saat itu tgl 5 agustus 1962, saat Inggris memberi kemerdekaan pada Jamaika setelah selama 300 tahun di jajah oleh negara Ratu Elizabeth 2 itu. Berbarengan dengan perayaan kemerdekaan Jamaika itu muncul sebuah jenis musik baru yg disebut Ska. Ska sendiri sebenarnya sudah dirintis perkembangannya semenjak di era 50-an dulu, karena itu ada baiknya kita flash back ke era itu. Tahun 50-an adalah masa di mulainya era musik modern Jamaika, era itu di mulai dengan sebuah budaya yang sangat unik dan hanya ada di Jamaika sampai saat ini, yaitu era Sound System. Di namakan era sound system karena satu-satu nya jalan bagi kalangan kelas bawah yang merupakan mayoritas di sana untuk mendengarkan musik saat itu adalah melalui sound system. Caranya adalah dengan memutar piringan hitam musik Jazz, Motown Soul dan RnB Amerika di seperangkat alat pemutar piringan hitam dan untuk pengeras suaranya dipakai seperangkat pengeras suara / sound system. Biasanya hal itu di lakukan,,                                                                               

di pesta-pesta yang di gelar di jalanan, jadi benar-benar musik jalanan untuk kaum bawah yang haus hiburan tapi tidak bisa datang ke klub-klub malam yang mahal dan mewah atau pergi liburan ke tempat-tempat wisata seperti Miami, pokoknya benar-benar lower class entertainment. Tetapi bukan berarti permintaan akan LIVE musik tidak ada. Pada mulanya para musisi Jamaika hanya memainkan lagu-lagu Jazz dan RnB seperti Fat Domino, Louis Jordan dan Ray Charles, sampai akhirya mereka merasa perlu untuk membuat lagu sendiri dengan cara meniru gaya bermusik artis RnB di Amerika, terutama gaya bermusik Boogie Rock ala New Orleans. Namun Pada kenyataannya para musisi seperti Laurel Aitken dan Skatalites gagal meniru gaya yang seperti itu, yang terjadi adalah mereka malah menciptakan gaya musik baru yg merupakan penggabungan dari musik Jazz dan RnB Amerika dengan musik traditional Jamaika yaitu Calypso dan Mento, dan hasilnya adalah sebuah formulasi musik yg di kenal sebagai ska. Era ska berlangsung dari tahun 1962 sampai tahun 1966 saat ska berubah tempo-nya menjadi sedikit lebih lambat dan nge-Soul, tempo dan gaya ini di sebut Rocksteady, nah…. Rocksteady inilah yg kemudian berevolusi lagi menjadi musik yg saat ini di kenal dunia sebagai Reggae. Satu hal yg sangat penting dari era ska di Jamaika yg erat hubunganya dgn sejarah budaya Skinhead adalah kemunculan para Rude boy. Para Rudeboy ini adalah anak-anak muda yg terpikat dgn segala janji-janji muluk tentang kemakmuran setelah kemerdekaan Jamaika. Mereka berurbanisasi secara besar-besaran dari kota-kota seperti Negril dan Port Royal ke Kingston town, ibu kota Jamaika dgn harapan bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Namun akibat dari skill dan pendidikan mereka yg rendah serta langkanya lapangan pekerjaan di Kingston membuat mereka menjadi pengangguran dan akhirnya terpaksa bertahan hidup dgn menjadi preman jalanan, sebagian besar bahkan terlibat dalam kejahatan terorganisasi. Mereka terpaksa tinggal di daerah-daerah kumuh seperti Orange Street dan Trench Town yang sarat dgn permasalahan sosial seperti perdagangan ganja dan perkelahian antar gank. Kehidupan keras inilah yg membuat mereka menjadi kasar dan tangguh (rough & tough), serta terbiasa dgn kekerasan dan kejahatan, dari sinilah muncul istilah “Rude boy” yg kira-kira artinya adalah “Preman Jalanan”. Rude boy itu tangguh seperti seekor singa dan kuat seperti baja, begitulah katanya Derrick Morgan dalam lagu Rougher than Rough….., mereka berkeliaran di jalan-jalan kota Kingston dengan pistol ataupun belati di balik setelan jasnya. Pandangan akan preman jalanan dan penjahat inilah yang menjadikan mereka sebagai kaum yg di tolak keberadaannya oleh masyarakat. Rude boy inilah para fans musik ska saat itu, hal ini mungkin di karenakan ska yg musisinya berasal dari ghetto (daerah kumuh) sama seperti mereka, sehingga ska identik dgn pemberontakan dan di beri label musik kelas bawah. Hal lain yang sangat menonjol dari para Rude boy ini adalah gaya mereka yg cool, cara berpakaian mereka yg necis, rapih dan elegan. Setiap uang yang mereka hasilkan pastilah di habiskan untuk membeli setelan jas, sepasang sepatu kulit warna hitam yang di semir mengkilat, topi pork pie dan kaca mata hitam, benar-benar sebuah anti tesis terhadap latar belakang mereka yang berasal dari kelas bawah yang miskin. Tahun 1966 berbarengan dgn berubahnya ska menjadi rocksteady dan keadaan ekonomi Jamaika yang semakin terpuruk, kekerasan dan kejahatan yg di lakukan para Rude boy semakin menjadi-jadi, hal ini semakin di perparah dgn adanya campur tangan dari para politisi yg memakai mereka sebagai body guard untuk menjalankan kepentingan politiknya. Akibatnya pertarungan antar gank Rude boy semakin sering terjadi, masing-masing mati-matian membela teritorial dan kepentingan politik tuannya, korbanpun berjatuhan, Kingston pun menjadi medan perang. Opini publik pun langsung menghakimi para Rude boy dan meyerukan pelucutan senjata dan penangkapan para Rude boy secara besar-besaran. Akibatnya tak sedikit dari mereka yang di jebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan yang benar, dan yang lebih menyakitkan para politisi yang mereka bela sama sekali tidak membela mereka, bahkan malah memojokkan mereka, Politik dan segala tipu dayanya memang tak ada untungnya bagi budaya apapun. Para musisi ska yang mempunyai hubungan erat dgn para Rude boy segera merespon hal ini, mereka menciptakan lagu-lagu yang membela para Rude boy, namun sekaligus melakukan penyadaran terhadap mereka melalui lirik lagu mereka seperti 007 shanty town ( Desmond Dekker), Too hot (Prince Buster), Rougher than rough (Derrick morgan), Cry though ( Alton ellis), serta yg paling legendaris Rudy, a message to you (Dandy livingstone) yang kelak di populerkan kembali oleh The Specials. Keadaan Jamaika yang semakin morat marit membuat sebagian penduduknya berimigrasi ke Inggris, tentunya dgn harapan akan penghidupan yang lebih layak. Para imigran inilah yang membawa budaya kulit hitam Jamaika terutama musik Ska/ Rocksteady/Reggae ke negeri berbendera Union Jack tersebut. Di antara mereka bahkan ada beberapa musisi kenamaan Jamaika seperti Laurel Aitken yang kelak di sebut-sebut sebagai The God Father of Ska dan Rico Rodrigues seorang pemain trombone yang pernah bergabung dgn band ska pertama di dunia The Skatalites, dan tentunya beberapa Rude boy pun ikut dalam gelombang imigrasi ini, di sinilah mereka bertemu dgn budaya anak muda kulit putih Inggris yg menamakan dirinya Mods….,

Mods Inggris, Cikal Bakal Budaya Skinhead Anak-anak muda yang menamakan diri mereka Mods muncul di Inggris untuk pertama kalinya di akhir tahun 50-an. Nama budaya mereka yang merupakan singkatan dari “modernisme” di ambil dari penolakan mereka atas Tradisional Jazz yang melanda Inggris beberapa saat sebelum era The Beatles. Mods pada awalnya adalah fans berat musik Modern Jazz seperti Dave Bruebeck, hal itu tidaklah berlangsung lama sampai akhirnya mereka jatuh cinta pada Black music dari Amerika seperti Northern Soul, RnB, dan tentunya musik Ska Jamaika.

Budaya ini juga di kenal sebagai pihak yg membidani lahirnya “Garage band” yang paling berpengaruh di abad 20, yaitu The Who dan The Small Faces. Seperti halnya budaya anak muda lainnya Mods pun mempunyai cara berpakaian tersendiri,malahan hal itu adalah hal yang terpenting bagi mereka. Layaknya para Rude boy di Jamaika, para Mods ini berpakaian sangat rapih dan necis, setelan jas buatan Italia, sepasang sepatu brogues, parka (semacam mantel untuk berkendaraan) dan yang terpenting dari semuanya, Scooter (biasanya bermerek Lambretta). Mereka biasanya nongkrong di kafe-kafe atau coffee shop seputaran London, tentunya sambil mendengarkan Soul, RnB, dan Ska. Satu hal yang paling penting di ingat di sini bahwa Mods sangat-sangat mengejar Fesyen terutama merek-merek tertentu seperti kemeja Jaytex, hal itu karena ide dasar dari Mods adalah bagaimana caranya untuk terlihat lebih cool dan bergaya ketimbang orang-orang normal, bergaya seperti seorang pekerja mapan walaupun kenyataanya mereka masih sekolah. Pada awalnya anak-anak muda yang mengadopsi Mods sebagai identitas diri sangatlah sedikit, tapi memasuki tahun 1962 budaya ini semakin banyak pengikutnya, walaupun belum sampai pada taraf trend atau mewabah. Tapi di balik penampilan mereka yang cenderung terlihat seperti kelas menengah, sebenarnya Mods adalah murni budaya kelas pekerja. Hal yang membuat para Mods berpenampilan seperti itu adalah karena budaya mereka sebenarnya merupakan sebuah kontra budaya terhadap Teddy Boys/ greasers/rockers yang muncul beberapa dekade sebelumnya. Semua hal dari pakaian, musik yang di dengarkan, kendaraan sampai cara berpikir Mods adalah kebalikan 180 derajat dari para rockers. Mods tampak necis dgn setelan jas buatan italianya, sedangkan Rockers tampil gahar dgn celana kulit dan jaket kulitnya, Mods mendengarkan Soul, RnB dan Ska, sedangkan Rockers mendengarkan Rock N’ Roll, Mods berkeliaran di jalan-jalan dgn scooter Lambrettanya, sedangkan Rockers dgn motor Harley Davidsonnya, dan masih segudang hal bertentangan lainnya. Pertentangan ini membuat mereka membenci satu sama lain, tak jarang hal itu mengakibatkan perkelahian di antara mereka, yang paling legendaris adalah perkelahian di Bank Holiday (semacam liburan musim panas) di tepi pantai Brighton tahun 1964. Hal itulah yang membentuk opini publik yang buruk terhadap mereka, layaknya Rude boy di Jamaika, Mods di anggap sebagai berandalan, kaum yang di tolak keberadaanya oleh masyarakat. Semenjak paska PD II telah terjadi imigrasi penduduk Jamaika ke Inggris, hal ini terjadi gelombang demi gelombang dan mencapai puncaknya antara tahun 1964 – 1966. Para imigran kulit hitam ini tinggal di daerah-daerah tempat kelas pekerja Inggris tinggal, di sinilah terjadi interaksi budaya antara Mods dan anak2 muda imigran Jamaika. Fenomena Rude Boy yang terjadi di Jamaika ternyata dgn cepat menyebar di antara anak-anak muda imigran Jamaika kelahiran Inggris, di tambah datangnya beberapa orang Rude boy “asli” kingston di lingkungan mereka. Dengan cepat mereka mengadopsi cara berpakaian Rude boy di Kingston dan mendengarkan musik yang saat itu sedang hits di Jamaika seperti Prince Buster dan Alton Ellis. Gaya Rude boy ini segera saja mewabah pula di kalangan Mods, ketertarikan mereka terhadap musik Jamaika yang sudah ada semenjak awal perkembangan budaya ini pun menjadi semakin besar, bahkan Pork Pie Hat ala Prince Buster pun menjadi asesoris wajib. Ska tiba-tiba saja menjadi musik utama para Mods, kepopuleran Prince Buster di kalangan Mods tiba-tiba saja mengalahkan artis-artis motown seperti Martha Reeves and The Vandelas ataupun Marvin Gaye. Dan yang terpenting kini mereka punya sekutu baru dalam melawan Rockers, para anak muda imigran kulit hitam asal Jamaika, ya…. Para “UK based Rude boy”. Di tahun 1967 budaya Mods semakin mewabah di Inggris, sampai-sampai lagu Prince Buster berjudul “Al Capone” mencapai nomor 18 di tangga lagu nasional Inggris, padahal hanya para Mods lah yang mendengarkannya. Mewabahnya Mods membuat budaya ini mulai kehilangan esensi dan pemikiran dasarnya. Mods yang pada awalnya adalah murni budaya kelas pekerja kini mulai tercemar dgn masuknya anak-anak kelas menengah bahkan kelas atas yang sebenarnya hanya tertarik dgn fesyen Mods tanpa tahu dasar pemikiran budaya ini. Tiba-tiba saja Mods hanyalah tentang pakaian bagus dan mahal, bahkan seorang Mods yang tidak berpakaian seperti itu pasti akan di tertawakan dan tak akan di terima oleh Mods lainnya. Hal ini tentu saja tak masalah bagi mereka anak-anak kelas menengah yang orang tuanya kaya raya, tapi masalah besar bagi anak-anak kelas pekerja, bayangkan….. uang saku mereka hanyalah 10 pound perminggu, sedangkan harga pakaian yang “ di anggap” sebagai pakaian Mods yang benar saat itu adalah 15 pound….!!! Pada akhirnya apapun di dunia ini adalah tentang kelas, hal itu pulalah yang terjadi pada Mods. Pembagianpun segera terjadi, Mods kelas menengah di satu sisi, dan Mods kelas pekerja di sisi lainnya. Para Mods kelas pekerja ini menolak cara berpakaian mewah ala para Mods kelas menengah, terlebih lagi di antara anak-anak kelas menengah itu mulai berjangkit pola pikir “generasi Bunga / hippies”. Mods kelas pekerja ini tiba-tiba saja menjadi kontra budaya terhadap “Mods kelas menengah. Cara berpakaian mereka berubah menjadi lebih “Hard”. Setelan jas buatan Italia di gantikan dgn kemeja Ben Sherman, jaket Denim dan celana jeans Levi’s 501, dan yang cukup ekstrim : rambut klimis mereka di cukur semakin pendek (hampir botak) dan sepatu kulit yang mewah dan mengkilat di gantikan dengan Boots yang biasa di pakai pekerja industri logam atau pekerja tambang. Cara berpikir dan tingkah laku mereka pun semakin jauh berbeda dgn “Mods tradisional”, anak-anak kelas pekerja ini lebih agresif, lebih suka melakukan kekerasan dan lebih provokatif terhadap musuhnya para Rockers, karenanya mereka mendapatkan julukan baru : Hard Mods. Pada akhir tahun 1968 para Mods Tradisional yang kebanyakan adalah anak kelas menengah masuk ke kuliah-kuliah seni, sebuah hal yang mustahil di dapat para Hard Mods. Hari-hari di kampus kuliah seni inilah yang membuat para Tradisional Mods ini akrab dgn Pop Art, musik Rock Kontemporer ala The Cream, dan yang paling esensial Pola Pikir Hippie yang semakin melekat di otak mereka dari hari ke hari, ya…. Mods kelas menengah berevolusi menjadi Hippies, dan menyerahkan jalan2 kosong di se-antero Inggris kepada sekelompok anak muda tangguh yang kelak di namakan Skinhead.

     

Lahirnya Budaya Skinhead Pada dasarnya Skinhead adalah gelombang baru dari budaya Mods yang sudah berkembang beberapa tahun sebelumnya. Pada awalnya mereka di sebut sebagai Hard Mods, sebuah sebutan yang mengacu pada dandanan, tingkah laku dan pola pikir mereka yang lebih keras dari pada Tradisional Mods. Para Skinhead ini lebih terkesan berandalan dari para pendahulunya, mereka lebih sering melakukan kekerasan, sebuah prilaku alami dari anak-anak kelas pekerja yang tak puas dengan kenyataan hidupnya.


Satu hal yang perlu di ingat di sini bahwa...

Tidak ada komentar: