DI KUTIP DARI BEBERAPA SUMBER MEDIA
AKA
“Band rock Indonesia tidak akan sukses apabila tidak pernah menjajal kerasnya panggung rock kota Malang”; sebuah quote yang mungkin dapat dengan serta merta disanggah ketika sebagian orang mungkin akan berteriak Jakarta atau Bandung. Tetapi demikianlah sebuah penegasan dari seorang sesepuh yang mengawali segenap drama panggung rock Indonesia. Bermula dari sebuah racikan seorang apoteker jenius di bilangan Kali Asin Surabaya, pada pertengahan dekade 60an, ditambah racun racun Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad & Jimmy Hendrix yang semerbak mewangi dalam neraka panggung rock kota Malang, lahirlah AKA Band yang dikemudian hari melejitkan seorang nama fenomenal, Ucok AKA.
Ketika peta musik Indonesia dekade 60an didominasi oleh balutan generasi bunga dari para poppies seperti Koes Bersaudara, maka tahun 67 adalah halaman awal dalam buku sejarah musik rock Indonesia. Karena untuk pertama kalinya berdiri sebuah band rock dengan performa yang garang dan skill berakselerasi maksimum bernama AKA band. AKA atau disebut juga Apotik Kali Asin ini digawangi oleh Arthur Kaunang [ayah artis Tessa Kaunang], Sonata Tandjung, Sjech Abidin, serta Andalas Datoe Oloan Harahap atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ucok AKA.
Seperti kita tahu, bahwa resesi ekonomi & konflik politik pada tahun itu membuat segala hal dalam kehidupan menjadi sangat sulit. Namun kecerdasan seorang apoteker pecinta musik rock bernama Ismail Harahap [ayah Ucok AKA] yang kemudian melahirkan dan melambungkan AKA Band. Sebuah anugerah yang sangat besar pada era itu ketika seorang ayah merestui anaknya sendiri untuk menjadi rock star. AKA band inilah yang di kemudian hari turut memicu berdirinya band band rock Indonesia yang lain seperti Giant Step [Bandung] dan juga Trencem [Solo] yang digawangi oleh Setiawan Djodi.
Tahun tahun awal eksistensi mereka adalah sebuah masa penggodokan yang membentuk karakter bermusik mereka. Panggung panggung neraka musik rock di Jawa Timur utamanya di Malang dan Surabaya pada era akhir 60an dan awal 70an menempa mereka untuk menjadi seorang rocker berkualitas yang benar benar berkarakter. Simak saja skill berakselerasi maksimum ala Led Zeppelin, Jimmy Hendrix ataupun Grand Funk Railroad, kemudian beat beat rocknroll liar sejenis Deep Purple yang banyak mempengaruhi lagu lagu AKA.
Ditambah lagi dengan aksi teatrikal sinting dari sang vokalis nyentrik yaitu Ucok AKA, seperti menyanyi sambil bergelantungan terbalik di ketinggian 10 meter, jumpalitan jungkir balik seperti seorang atlit senam, ataupun membawa bawa peti mati, dll. Konsep performance raw seperti ini memang telah direncanakan sebelumnya sebagai sebuah hiburan tersendiri bagi audiences yang datang dari berbagai pelosok daerah. Komposisi entertaintment panggung AKA sendiri kurang lebih 60% adalah musik sementara 40% adalah performance. Walaupun performance seperti ini seringkali...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar